Kami siap bekerja sama dengan per-TOKO-an di seluruh INDONESIA, Mari Jadikan Segalanya Lebih Mudah Lagi.

Seni memelihara lisan

Jika bencana datang menimpa diriku, maka sesungguhnya aku setegar batu karang dalam menghadapi badai bencana.
   Para ahli sejarah meriwayatkan bahwa suatu hari Khalid bain Yazid bin Mu’awiyah mendiskreditkan ‘Abdullah bin Zubair, musuh bebuyutan Bani Umayyah, dan mencapnya sebagai orang yang kikir. Tersebutlah bahwa istri Khalid, yaitu Ramlah binti Zubair, saudara perempuan ‘Abdullah bin Zubair, sedang duduk mendengar kata-kata suaminya dengan hanya menundukan kepalanya dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Khalid pun bertanya kepadanya: “Mengapa kamu tidak bicara? Apakah kamu setuju dengan apa yang ku katakan ataukah kamu tidak mau menyanggahku?”
Ramlah menjawab: “Tidak ini dan tidak pula itu, tetapi wanita diciptakan bukan untuk ikut campur dengan urusan kaum lelaki. Kami diciptakan hanya sebagai hiburan untuk dicium dan dipeluk, maka apalah gunanya bagi kami ikut campur dalam urusan kalian?”
Mendengar jawaban istrinya, Khalid kagum, lalu ia mencium kening istrinya.
  Rasulullah SAW telah melarang dengan tegas membuka rahasia hubungan antara suami-istri. Imam Ahmad bin Hambal telah meriwayatkan melalui Asma binti Yazid yang telah menceritakan bahwa suatu hari ia berada dihadapan Rasulullah SAW bersama dengan banyak kaum lelaki dan kaum wanita yang semuanya duduk. Beliau SAW barsabda: “Barangkali ada seorang lelaki yang menceritakan apa yang telah dilakukan bersama istrinya dan barangkali pula ada wanita yang menceritakan apa yang telah dilakukannya bersama suaminya.”

  Semua kaum yang hadir diam membisu dan tidak ada yang angkat bicara, lalu Asma’ binti Yazid berkata: “Wahai Rasulullah, benar! Demi Allah, sesungguhnya kaum wanita ini telah melakukannya dan begitu pula kaum lelakinya.”

  Rasulullah SAW bersabda: “Jangan kalian lakukan lagi. Sesungguhnya perumpamaan hal tersebut tiada lain sama dengan setan laki-laki yang bersua dengan setan perempuan di tengah jalan, lalu setan laki-laki itu menggaulinya, sedang orang-orang menyaksikannya.”

  Sebagian Ulama tafsir menafsirkan firman-Nya:
“Sebab itu wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS.4:34)

"Hitunglah nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada anda daripada menyibukan diri dengan menghitung-hitung kelelahan anda..."

No comments:

Post a Comment